Di jantung Menteng, tepat di samping Stasiun Gondangdia, berdiri Toko Kopi Luwak—satu-satunya kedai kopi tradisional yang masih eksis sejak 1970. Meskipun nama “Luwak” baru dipakai ketika kopi luwak menjadi tren, toko ini awalnya dikenal sebagai Toko Kopi Burung Kenari, mengikuti kebiasaan menamai kedai kopi dengan nama burung pada masa itu.
Pemiliknya, Xi Yilun, generasi ketiga penerus usaha keluarga, mengisahkan bahwa nenek moyangnya dulu berjualan obat sejak 1930, namun usahanya beralih ke kopi pada era 1970-an. Hingga kini, ia masih mengoperasikan mesin penggiling kopi legendaris yang selamat dari kebakaran hebat pada 2012, menjadi saksi bisu perjalanan bisnis selama setengah abad.
Toko ini menawarkan beragam biji kopi Indonesia—Arabika dari Toraja, Sidikalang, Gayo, serta Robusta Lampung yang paling laku. Harga biji kopi sangrai mulai Rp120.000/kg untuk Robusta dan Rp160.000/kg untuk Arabika, dengan pilihan pembelian mulai 100 gram, baik dalam bentuk biji maupun bubuk yang langsung digiling tanpa biaya tambahan.
Meski minat kopi terus meningkat, Yilun mengaku profit margin menurun; dulu keuntungan bisa setengah dari modal, kini hanya Rp20.000 per kilogram. Ia juga ragu apakah generasi berikutnya, yang kini bekerja di bidang IT, akan melanjutkan warisan ini.
Keunikan Toko Kopi Luwak terletak pada atmosfer klasiknya yang kontras dengan kafe modern yang bermunculan, sekaligus menjadi destinasi bagi pecinta kopi yang ingin merasakan cita rasa otentik Jakarta yang tak lekang oleh waktu.