Aspal Buton Jadi Andalan Baru: Pemerintah Target Swasembada dan Hemat 30% Biaya Jalan

Aspal Buton (Asbuton) kini menjadi sorotan utama pemerintah sebagai solusi mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor aspal. Batuan aspal alami yang melimpah di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, diproyeksikan menjadi bahan baku utama dalam program A30, yang mencampurkan 30% Aspal Buton dengan aspal murni.

Gambar 1

Program ini sedang disiapkan melalui regulasi baru yang akan dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pada bulan Mei 2026. Menteri PU Dody Hanggodo menjelaskan bahwa regulasi ini mengadopsi pendekatan serupa dengan kebijakan mandatori biodiesel, mulai dari B10 hingga B30, sehingga proses implementasinya dapat dilakukan tanpa perubahan signifikan pada pabrik pencampur aspal.

Jika diterapkan, campuran A30 diperkirakan dapat menurunkan biaya pengadaan aspal hingga 30 persen, sebuah langkah penting mengingat keterbatasan APBN yang harus membagi dana antara infrastruktur, ketahanan pangan, dan kebutuhan publik lainnya.

Aspal Buton sendiri merupakan batuan aspal alami yang terbentuk secara geologi selama jutaan tahun, mengandung bitumen alami yang bercampur dengan mineral batuan. Berbeda dengan aspal berbasis minyak bumi, Asbuton dapat ditambang langsung dari tambang di Pulau Buton. Menurut data SIMPK Kementerian PU, cadangan Asbuton di Indonesia mencapai sekitar 662 juta ton, meski belum terverifikasi secara independen.

Para praktisi konstruksi, seperti Riski Wahyudi, menilai kualitas aspal alami ini cukup baik untuk perkerasan jalan, menjadikannya aset strategis nasional yang dapat mengurangi impor. Dengan target peluncuran program A30 dalam satu‑dua minggu ke depan, pemerintah berharap Asbuton dapat segera menjadi komponen kunci dalam pembangunan jalan raya di seluruh Indonesia.


source : kompas.com
Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak